Bank Syariah, Bank perdamaian...


Seorang teman non-muslim bertanya pada saya, ”Apa yang dimaksud bank Syariah itu? Apakah saja kelebihannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya terima dalam konteks saya sebagai seorang muslim yang bekerja di sebuah lembaga non-muslim dengan staf yang kebanyakan memiliki latar belakang non-muslim pula. Saya pun menjawab sebisanya, sebatas bahwa bank syariah tidak mengenal konsep riba yang merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain.

Secara langsung, saya belum pernah berhubungan atau menjadi nasabah bank Syariah yang banyak bermunculan akhir-akhir ini. Bahkan pada dasarnya saya adalah orang yang skeptis terhadap institusi yang memakai label tertentu di belakang namanya, apalagi label agama. Bagi saya, tidak perlulah suatu institusi atau sistem kemasyarakatan diberi label agama, dalam hal ini Islam, baik itu bank Islam, bank Syariah, sistem ekonomi Islam, negara Islam, hukum Islam dan sebagainya, karena segala nilai kebaikan pada dasarnya universal, tanpa memandang dari mana sumber rujukan atau landasannya.


Namun pandangan tersebut mulai berubah tepat setelah teman non-muslim tersebut bertanya tentang bank Syariah kepada saya, dan saya pun mulai mencari tahu informasi dan seluk beluk tentang sistem perbankan ini. Sebelumnya, pengetahuan tentang bagaimana Islam mengatur kegiatan ekonomi saya dapat dari kitab-kitab klasik di kalangan pesantren, atau yang lebih dikenal sebagai kitab kuning. Sejauh yang saya ingat, prinsip utama dalam ekonomi Islam adalah keadilan dan kesetaraan, yang tercermin dalam praktek-praktek ekonomi yang kemudian menjadi produk bank Syariah saat ini, yaitu Mudharabah, Musyarakah, Murobahah, dan Takaful. Tentu saja teks-teks kitab klasik tersebut hanya menyinggung bagaimana menjalankan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan dalam sistem ekonomi yang sederhana, terutama dalam perdagangan atau jual beli hasi pertanian, dan tidak secara detail menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterapkan dalam lembaga profesional dan modern, baik itu menyangkut sistem, produk maupun layanannya.

Pertanyaan teman saya yang non-muslim sekaligus membuka mata saya tentang sisi lain dari sistem perbankan Syariah, di luar sisi bisnis dan nilai profitnya. Pada tahun 2006, Nobel Perdamaian dimenangkan oleh Muhammad Yunus, seorang ekonom yang mendampingi kaum marginal di Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank (Bank Desa) yang diperuntukkan bagi kalangan miskin seperti pengemis, gelandangan, buruh dan kaum perempuan yang tidak memiliki akses untuk pinjaman modal usaha dari bank konvensional.

Mereka yang selama ini tidak memiliki akses kepada bank karena status sosial mereka diberi pinjaman tanpa agunan dan persyaratan apapun, selain keyakinan bahwa mereka juga bisa meningkatkan taraf hidup mereka seperti orang lain pada umumnya. Meski pada awalnya jumlah pinjaman sangat kecil, namun dengan ketekunan dan ketelatenan, dengan Grameen Bank-nya Muhammad Yunus mampu mengangkat martabat kaum marginal tersebut dari garis kemiskinan. Para pengemis dan gelandangan tidak lagi meminta-minta, bahkan bisa mandiri dengan menjadi pengusaha kecil dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kini Grameen Bank bahkan memiliki aset senilai miliaran dolar Amerika dan beberapa usaha lainnya seperti telekomunikasi dengan tetap berpegang pada prinsip yang mengutamakan keberpihakannya pada kaum marginal.

Kenyataan bahwa Nobel Perdamaian diberikan kepada seorang ekonom tentu menjadi suatu fenomena menarik. Perdamaian tidak lagi dilihat dari ada atau tidaknya konflik atau perang, tapi juga dilihat dari potensi konflik atau akar masalahnya. Muhammad Yunus berpendapat bahwa akar konflik adalah ketidakadilan suatu kelompok terhadap kelompok lainnya. Dengan kata lain, perdamaian dan suasana hidup harmoni tercipta ketika dalam suatu komunitas terwujud kehidupan yang setara tanpa diskriminasi, di mana setiap orang berhak terhadap akses sosial ekonomi tanpa dilihat latar belakang mereka.

Apa yang dilakukan Muhammad Yunus di Bangladesh pada dasarnya memiliki konteks yang sama dengan realitas di Indonesia. Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam latar belakang, baik itu suku, ras, budaya dan terutama agama. Dan realitasnya, kemiskinan masih menjadi problem utama bangsa ini. Dalam konteks agama, jika melihat ke dalam internal umat Islam di Indonesia, meski umat mayoritas namun sebagian besar juga hidup di desa-desa yang miskin dan tertinggal. Problem yang sama juga dihadapi oleh umat agama lain yang tinggal di kantong-kantong tertentu. Sedikit gesekan akan memicu timbulnya konflik kekerasan, dan selama ini realitas keberagaman agama sering dipakai untuk mengobarkan kebencian demi kepentingan suatu kelompok tertentu.

Jika sepakat dengan Muhammad Yunus, kemiskinan sejatinya bisa menjadi pemicu bara konflik. Ini juga sejalan dengan temuan bahwa beberapa konflik kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia salah satunya akibat kesenjangan ekonomi, dan bukan karena sentimen agama. Imam Sayyidina Ali sendiri mengatakan bahwa ”jika kemiskinan itu berwujud manusia, akulah yang pertama kali akan membunuhnya”, yang menandakan bahwa kemiskinan adalah musuh bersama yang harus diperangi karena bisa berujung pada berbagai masalah dan penyakit sosial seperti kriminalitas atau kekerasan massal.

Disinilah sebenarnya peluang dari Bank Syariah sebagai institusi keuangan yang memakai rujukan dari hukum Islam untuk bisa memainkan perannya dalam membangun relasi dan kerjasama antar umat beragama sehingga bisa menciptakan budaya perdamaian di tingkatan akar rumput. Tidak hanya berorientasi profit, namun kemiskinan menjadi agenda prioritas, bagaimana mewujudkan kesejahteraan berdasar prinsip kesetaraan dan keadilan yang ditekankan dalam Islam.

Respon masyarakat yang besar, tidak hanya dari umat Islam, tetapi juga umat agama lain tidak hanya harus disikapi sebagai peluang bisnis, tetapi menjadi pintu masuk untuk proses dialog agama yang bertujuan untuk menggali nilai kebaikan dari agama masing-masing. Hasil dari proses dialog inilah yang kemudian dijabarkan dalam rencana kerja bersama dengan agenda utama pemberantasan kemiskinan.

Satu hal yang bisa dilakukan adalah bank Syariah harus berani menjemput bola, dengan masuk ke kantong-kantong daerah miskin, wilayah-wilayah yang diyakini mempunyai potensi konflik yang tinggi karena bertemunya berbagai macam latar belakang masyarakat yang berbeda, atau wilayah-wilayah yang pernah mempunyai sejarah konflik kekerasan berlatar belakang agama atau sosial, dengan membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat lapisan terbawah masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidupnya tanpa melihat latar belakang status sosial mereka.

Agar tidak menimbulkan prasangka karena label agama yang melekat, bank Syariah harus menggandeng berbagai kelompok atau organisasi agama lain, bersama-sama merumuskan kerja-kerja pengentasan kemiskinan, baik itu melalui sektor ekonomi langsung seperti kredit tanpa agunan atau bagi hasil, membangkitkan usaha kecil dan koperasi seperti kerajinan khas daerah, usaha perikanan dan pertanian. Bank Syariah juga bisa mempelopori pelatihan dan pendidikan kepada kelompok-kelompok marginal untuk menjadi wiraswastawan (entrepreuner) yang terampil, atau merangkul dan memberdayakan kaum perempuan dan kaum difabel, memberi beasiswa kepada anak usia sekolah, atau program sosial yang bermanfaat untuk masyarakat lainnya (Corporate Social Responsibility).

Dengan program-program sosial tersebut, kegiatan perbankan syariah tidak semata dimaknai sebagai kegiatan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam semata, melainkan juga ibadah demi mewujudkan apa prinsip bermanfaat bagi sesama (rahmatan lil alamin). Dalam konteks perdamaian, selain mencegah konflik kekerasan dari akarnya, yaitu ketidakadilan dan kemiskinan, langkah ini sekaligus bisa membangun citra positif Islam sebagai agama yang ramah, damai dan toleran setelah beberapa waktu sebelumnya Islam diberi label sebagai agama yang penuh kekerasan, baik di dunia internasional pasca tragedi 9/11 September maupun dalam konteks nasional dengan banyaknya organisasi-organisasi berlabel Islam yang menghalalkan kekerasan dalam mencapai tujuannya.

Kini bank syariah tidak lagi dianggap bank kelas dua, terlebih setelah berbagai lembaga keuangan skala internasional dan multinasional juga mulai membidik pasar ini. Label syariah yang melekat pada lembaga ini juga tidak menyurutkan minat kalangan non-muslim untuk menikmati layanan yang disediakan. Dengan slogan pencitraan ”lebih dari sekedar bank” (beyond banking), yakni perbankan yang menyediakan produk dan jasa keuangan yang lebih beragam serta didukung oleh skema keuangan yang lebih bervariasi, tentu bank Syariah juga bisa berbuat lebih dalam menyejahterakan masyarakat di lapisan bawah tanpa membedakan latar belakangnya, sesuai dengan nilai keadilan dan kesetaraan yang menjadi prinsip utama dalam ajaran Islam, bersama-sama dengan umat agama lain atau golongan lain di masyarakat menghapuskan kemiskinan dan kesenjangan sebagai sumber segala persoalan sosial, sehingga bangsa Indonesia bisa hidup berdampingan dalam suasana damai.

Tapaktuan, 11 Juni 2009

Read more...

Kisah Nur Yang Malang...

Namanya Nur. Perempuan yang lahir dan besar di ibukota ini berusia sekitar 25 tahun. Dalam usianya yang semuda itu, ia telah mengalami episode hidup yang begitu kelam. Episode pahit pertamanya dalam hidupnya adalah ketika suaminya menceraikan dan meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Ia pun dipaksa membesarkan tiga anaknya sendiri.
Di tengah kesedihannya, datang seorang lelaki yang kemudian menjadi awal dari episode pahit kedua dalam kehidupannya. Lelaki ini, sebenarnya lebih tepat disebut remaja tanggung, berusia sekitar 17 tahun, datang ke Jakarta sebagaimana jutaan orang lainnya yang berusaha mengadu nasib di ibukota. Mereka berkenalan, dan setelah pergaulan yang begitu dekat, Nur hamil. Mereka lalu menikah, dan sang suami memboyong Nur ke kampung. Bayangan kehidupan di kampung yang ramah begitu menggoda Nur untuk melupakan masa lalunya. Dan seakan benar-benar ingin memulai hidup baru tanpa masa lalu, tiga anaknya dari pernikahan sebelumnya diasuh oleh keluarganya di ibukota.


Belakangan, Nur seperti menyesali keputusannya menikah dengan Man, suaminya. Kehidupan kampung yang nyaman dan rumah tangga yang bahagia tinggal mimpi. Man hanyalah seorang remaja tanggung yang sama sekali seperti tidak punya minat untuk hidup berkeluarga dan masih asyik dengan dunia remajanya. Setiap hari kerjaannya hanya keluyuran, jarang pulang entah ke mana. Tapi Nur masih berusaha tabah. Untunglah mertuanya –seorang janda tua penjual bubur- begitu sayang kepada Nur, seakan menyadari bahwa anak lelaki satu-satunya belum bisa diharapkan untuk menjadi tulang punggung dan kebanggaan keluarga.
Nur lalu berusaha menyambung hidupnya dengan jualan makanan kecil di sebuah sekolah dasar di dekat rumahnya. Dalam keadaan hamil tua, setiap hari ia mengangkat kardus makanan kecil, panci berisi bubur dan makanan lainnya. Hasilnya tidak seberapa, namun sangat berarti untuk membeli kebutuhan sehari-hari ketimbang berharap pada Man yang nyaris tidak pernah memberinya uang belanja.
Pada dasarnya Nur termasuk orang dengan pembawaan yang cukup riang dan seperti mampu menyembunyikan kepedihannya. Namun Nur selalu bilang bahwa ia sebenarnya tidak kuat menghadapi perilaku suaminya. Ia bahkan sudah punya rencana, jika anaknya nanti sudah lahir, ia akan memberikan anaknya kepada siapapun yang mau merawatnya. Alasan ekonomi membuatnya tidak punya pilihan lain.
Episode ketiga dalam hidupnya. Nur melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Beberapa hari setelah melahirkan, Nur sudah kembali berjualan, kadang sambil menggendong bayinya yang masih merah. Belakangan Nur mengurungkan niatnya memberikan bayinya kepada orang lain, menyadari betapa cantik bayinya dan berharap kelak akan ada yang menemani dan merawatnya. Dalam hati Nur juga masih berharap bahwa suaminya akan berubah setelah kehadiran putri mereka. Namun nasib pahit masih enggan beranjak dari kehidupannya. Man masih saja doyan keluyuran ketimbang melakukan tanggungjawabnya sebagai seorang suami.
Episode keempat. Man, yang masih remaja tanggung itu, ketahuan berselingkuh dengan perempuan yang sudah bersuami dan beranak lima. Ia babak belur dihajar oleh orang sekampung. Bagi Nur, ini seperti sebuah episode yang diputar ulang dalam hidupnya. Nur tidak tahan. Ia berniat minggat. Orang-orang kampung yang bersimpati kepadanya meminta ia sabar dan mengurungkan niatnya demi bayinya. Seperti sebuah drama sinetron, di tengah jalan para tetua desa berusaha menahan dan membujuknya untuk pulang. Tapi tekad Nur sudah kuat, tidak ada yang bisa menahannya. Ia tak bergeming, seangkuh nasib yang menghancurkan hidupnya. Nur minggat entah kemana. Ada yang bilang ia kembali ke ibukota. Bayinya yang masih berusia tiga bulan itu kini diasuh oleh mertuanya, janda tua yang setiap hari harus membanting tulang berjualan bubur untuk menyambung hidup.
Kini rasa masygul dan kehilangan tidak saja dirasakan oleh ibu mertuanya yang janda, tetapi juga orang-orang kampung, termasuk keluargaku. Nur adalah ”anggota keluarga”, yang setiap hari berbagi cerita dengan istriku, bermain dengan putriku yang masih balita dan kadang membantu ibuku, disela-sela waktu senggangnya berjualan makanan di emperan rumah kami.

(Tulisan ini pernah dimuat di www.kompasiana.com edisi 2 April 2009)



Read more...

pak dokter paru di bandara cengkareng


Saya sebenarnya sudah tidak ingin mengungkit luka lama. Selain karena banyak pekerjaan yang lebih penting, mengingatnya membuat saya teringat kejadian 2 tahun yang lalu. Namun bukankah kadang kita diingatkan oleh sebuah momen dalam hidup kita dengan momen yang lain pula?

Sore itu, 22 Maret 2009, saya tengah di bandara Cengkareng, menunggu penerbangan ke Medan. Pandangan mata saya tertuju pada sosok yang berjalan santai menuju pintu keberangkatan. Saya seperti mengenal sosok lelaki setengah baya dengan rambut setengah memutih, berkulit bersih dan berkaca mata itu. Gaya berjalannya yang khas masih saya ingat. Seperti sebuah deja vu. Tapi di mana? Saya berusaha keras mengingat daftar kerabat, kolega, kenalan, atau siapa saja yang pernah masuk dalam hidup saya. Siapa? Dan ketika ia hampir lenyap dari pandangan, barulah saya mengingatnya. Gerbang keberangkatan pesawat tujuan Solo yang dimasukinya membuat saya yakin bahwa saya memang pernah mengenalnya.


Januari 2006. Bapak saya terbaring di sebuah rumah sakit di Solo karena kanker paru-paru yang diidapnya. Bersama ibu, istri dan saudara, kami bergiliran menunggui bapak, mengajaknya berdoa atau memijit badannya saat pegal karena terlalu lama berbaring. Kondisi bapak sudah sangat lemah dan gering. Setiap beberapa hari, seorang dokter spesialis paru datang untuk memeriksa. Setiap pak dokter paru datang, ia memeriksa kondisi bapak dengan steteskopnya, tidak lama. Lalu setelah itu ia hanya berucap beberapa kata kepada suster tentang obat yang harus diberikan pada hari itu. Begitu yang dilakukannya setiap kali datang. Saya yang tidak puas hanya bisa mengira bahwa mungkin ada pasien lain yang harus ditangani pak dokter. Tapi saya juga berbaik sangka dengan mengambil kesimpulan bahwa dokter ini pasti sudah terbiasa menangani pasiennya. Rutinitas pemeriksaan yang pasti sudah ia jalani bertahun-tahun dan sudah sangat ia hafal caranya.

Sampai suatu ketika, pak dokter paru memanggil saya. Dengan wajah datar, pak dokter berkata bahwa ia sudah berusaha keras, namun kemungkinan bapak untuk bertahan sangatlah tipis. Saya diam, menatap wajahnya lekat-lekat. Jujur, saya tidak terlalu kaget dengan ucapan pak dokter. Justru karena menganggapnya dokter berpengalaman, saya menebak kira-kira berapa kali ia mengucapkan ini kepada keluarga pasien yang pernah ditanganinya. Subuh hari berikutnya, tepat di hari keempat belas masa perawatan, saya, ibu dan istri mengantarkan saat-saat terakhir ketika bapak pergi menghadap Tuhan. Rasa perih yang tidak juga hilang sampai beberapa tahun lamanya.

Saya sendiri tetap berprasangka baik bahwa pak dokter paru itu sudah menganalisa, atau berusaha keras menyembuhkan bapak saya dengan membuka-buka kembali dari buku referensi atau catatan tentang penyakit paru yang ia punya. Apalagi dari cara memeriksa bapak saya, jam terbang yang ia miliki pasti sudah tinggi. Saya juga tidak menganggap bahwa peran seorang dokter adalah segala-galanya. Lagipula, kami sekeluarga sudah mengantisipasi hal terburuk melihat hasil diagnosa yang menyebutkan kanker paru-paru yang diderita bapak sudah mencapai stadium akhir.

Namun sebagai orang awam yang bisa tahu dunia medis hanya dari buku atau referensi lainnya, tugas seorang dokter bukan hanya memeriksa atau mengobati, tetapi juga memberikan semangat dan motivasi pada pasien yang ia tangani. Apalagi untuk penyakit kanker, di mana motivasi dan semangat untuk melawan kanker memainkan peran yang tidak kalah penting dari pengobatan fisik. Saya hanya membayangkan, bahwa jika saja dalam masa perawatannya bapak saya mendapat perhatian yang lebih dari sekedar obat dan pemeriksaan fisik, barangkali ia akan lebih merasa nyaman atau tidak terlalu merasakan sakit yang membuat beliau tidak pernah bisa tidur selama masa empat belas hari masa perawatannya.

Dalam sebuah referensi yang saya cari di internet, seorang ahli terapi kanker, Max Gerson mengatakan bahwa ”kondisi mental penderita dan kerjasama psikologis dari keluarga serta lingkungan memainkan peran penting dalam restorasi tubuh. Setiap pasien membutuhkan kesetiaan, kasih, harapan dan semangat”. Lebih sekedar karena hak sebagai pasien yang sudah membayar, proses penyembuhan –dalam kasus penyakit apapun- tidak hanya soal teknologi atau obat yang digunakan, tetapi juga harapan yang harus selalu ditumbuhkan. Rutinitas atau kebiasaan tidak bisa mengalahkan empati dan kemanusiaan, apalagi oleh jumlah penderita yang harus ditangani.

Sore itu sosok pak dokter paru di bandara cengkareng kembali membuat dada saya terasa sesak dan perih. Barangkali bapak saya hanya salah satu saja dari sekian banyak pasien yang pernah ditanganinya. Tapi bagi saya, kehilangan bapak adalah masa-masa tersulit dalam hidup saya. Adakah pak dokter mengetahuinya?

Read more...

Seperti apa berkah itu?

Istilah berkah sering kita dengar dalam keseharian hidup. Sebuah istilah yang identik dengan rezeki atau penghidupan ekonomi. Berkah juga istilah yang menggambarkan kondisi hidup yang baik, layak, bahagia atau hidup berkecukupan materi. Dalam bahasa aslinya –bahasa arab- berkah artinya kebaikan.

Saya teringat suatu masa di sekitar tahun 1990-an, ketika saya masih duduk di bangku SD. Di kecamatan tempat saya tinggal terdapat keluarga yang kaya raya. Mereka memiliki usaha di bidang transportasi dan penggilingan padi yang cukup besar di seluruh kecamatan. Rumah mereka besar dan luas, berdinding batu kokoh dengan lantai marmer yang dingin. Masa itu, hanya segelintir orang yang memiliki rumah dengan model bangunan seperti yang mereka miliki.

Sayangnya, keluarga tersebut juga dikenal karena praktek riba yang mereka jalankan. Orang-orang yang berhutang pada mereka harus mengembalikan pinjaman beserta bunga dengan jumlah tertentu. Banyak warga yang tidak suka, tetapi masa-masa susah pada jaman itu membuat lebih banyak warga yang berhutang dengan resiko membayar beberapa kali lipat.

Saya mengenal baik keluarga tersebut meski mulai jarang berinteraksi terutama ketika saya duduk di bangku kuliah hingga bekerja. Belakangan saya tahu bahwa sesuatu terjadi terjadi pada mereka. Sang kepala keluarga mengalami gangguan jiwa sampai akhir hayatnya. Kedua anak perempuannya gagal dalam perkawinan, sementara anak lelaki satu-satunya selain gagal dalam berumah tangga juga divonis menderita kanker otak. Beberapa usaha yang dulu menjadi kebanggaan mereka bangkrut dan dijual. Kehidupan mereka berubah drastis. Terakhir kali datang saat melayat meninggalnya sang kepala keluarga, nyaris tidak tampak sisa-sisa kejayaan mereka di masa lalu. Rumahnya yang dulu seperti istana kini tak lebih rumah tua tak terurus dan kalah mentereng dibanding rumah-rumah di sekitarnya.

Tanpa bermaksud menyalahkan, tidak sulit untuk tidak mengambil kesimpulan bahwa keluarga tersebut menuai apa yang dulu mereka tanam. Beberapa orang mempercayai hukum karma, bahwa apa yang kita tanam hari ini akan kita panen beberapa waktu setelahnya. Segala hal baik yang kita kerjakan akan menghasilkan kebaikan pula beberapa waktu kemudian. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa, namun dalam konteks yang berbeda barangkali inilah yang dimaksud oleh Soren Kierkegaard dengan “lompatan iman” (leap of faith), yaitu suatu pengalaman hidup yang melampaui batas-batas obyektifitas dan tidak memenuhi standar rasio namun sejatinya hadir dalam keseharian manusia.

Berkah dalam urusan rezeki bukanlah soal jumlah yang kita terima, tetapi bagaimana kita mendapatkan, menggunakan dan bersyukur atasnya. Lebih dari itu, berkah adalah suatu kondisi kebaikan yang kadang tidak kita sadari tapi selalu bisa kita rasakan kehadirannya. Orang-orang yang hidupnya lurus dan jujur, barangkali memang tidak bisa menjadi kaya dan mempunyai harta berlebih, tetapi mereka bisa menikmati hidup dengan tenteram, fisik dan mental yang sehat serta keluarga yang membanggakan.

Sebaliknya, orang-orang yang jungkir balik menghalalkan segala macam cara memang bisa menikmati keuntungan pada saat itu juga, tetapi tidak sadar bahwa kehidupan pada hakekatnya adalah lintasan orbit yang teratur, dan jika itu dirusak maka malapetaka akan datang di kemudian hari. Adakalnya penyakit fisik yang mendera, namun lebih banyak yang sepanjang hidupnya sakit psikis, kecemasan dan rasa takut berlebih kehilangan harta. Banyak contoh di mana korupsi tidak hanya membuat pelakunya masuk penjara, tetapi juga membuat keluarganya tercerai berai atau menanggung malu seumur hidupnya.

Kembali ke cerita di atas, hubungan baik dengan keluarga tersebut membuat saya bisa merasakan masa-masa sulit yang mereka alami saat ini. Mereka bukanlah orang-orang yang “terhukum”, melainkan hanya sedang berada dalam fase memanen apa yang telah mereka tanam sebelumnya. Suatu kondisi yang bisa dialami oleh siapapun, kecuali mereka yang selalu mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan dengan tetap bekerja keras dalam orbit kejujuran dan tidak berlebihan. Sejarah tidak hanya narasi momen besar dari orang-orang besar, tetapi juga narasi kecil dalam lingkungan sehari-hari yang harus selalu diambil pelajaran darinya.




Read more...

Namanya Maksum...


Maksum. Perawakannya kecil, berkulit legam dan raut muka yang selalu riang. Gaya bicaranya yang lugu kadang menimbulkan tawa. Tanggal 28 di bulan November kemarin yang diperingati sebagai Hari Guru Nasional tiba-tiba saja mengingatkan saya pada sosok pak Maksum.

Saya mengenal pak Maksum di pertengahan tahun 2005 ketika mulai bekerja di Meulaboh, Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam. Tugas saya pada saat itu adalah menangani program pendampingan guru-guru honor di sekolah-sekolah yang terkena bencana tsunami dan sekolah terpencil yang terkena dampak konflik bersenjata. Pak Maksum adalah salah satu dari sekian ratus guru honor yang mendapat bantuan dari lembaga saya yang antara lain berupa insentif bulanan dan pelatihan peningkatan kapasitas yang berlangsung selama lebih kurang 2 tahun.


Pak Maksum mulai mengajar di sebuah SD di pinggiran Aceh Barat sejak tahun 1996. Ia tidak pernah mengenyam sekolah pendidikan guru atau bangku kuliah. Pendidikan tertingginya hanya SMA. Perkenalannya dengan dunia pendidikan lebih didasari karena kebetulan saja.

Saat itu, Aceh masih babak belur dihajar senjata dan kebencian. Banyak sekolah yang tutup atau dibakar orang tak dikenal. Pak Maksum tinggal di desa yang termasuk kawasan rawan kontak senjata di perbatasan Aceh Barat dan Aceh Jaya. Satu-satunya sekolah yang ada di desa tersebut terlantar karena tidak ada guru yang berani datang mengajar. Melihat kondisi anak-anak yang tidak bisa belajar, hati pak Maksum pun tergerak. Tanpa pengalaman mengajar sedikitpun, ia mengajak anak-anak untuk kembali datang ke sekolah dan memulai kegiatan belajar mengajar hanya dengan mengandalkan buku-buku pelajaran yang ada. Tentu saja tidak ada yang menggaji pak Maksum dan semuanya ia lakukan dengan penuh kesabaran. Pada mulanya ia sendirian sampai kemudian beberapa tentara yang bermarkas di sekitar sekolah ikut membantunya mengajar.

Situasi keamanan Aceh yang membaik setelah tsunami 2004 dan perjanjian damai Agustus 2005 membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah pak Maksum mulai berjalan dengan normal. Ia kemudian diangkat menjadi guru honor meski dengan status tersebut pak Maksum hampir tetap tidak mendapatkan gaji setiap bulannya. Dalam sebulan ia paling banyak hanya menerima honor 20 ribu rupiah, yang ia sebut sebagai “uang sabun” karena jumlahnya yang hanya cukup buat membeli sabun. Kadang selama beberapa bulan ia tidak menerima uang sama sekali karena pihak sekolah juga tidak mampu membayar gaji.

Tetapi pak Maksum tidak pernah mengeluh. Ia juga tidak risau ketika tidak segera diangkat jadi guru pegawai negeri, meski beberapa guru honor lain yang baru mengajar di sekolahnya setelah situasi keamanan membaik langsung diangkat menjadi pegawai negeri atau guru kontrak pemerintah daerah. Beberapa kali ia pernah mengikuti tes pegawai, namun statusnya yang hanya tamatan SMA menjadi kendala baginya untuk bisa diangkat sebagai abdi negara.

“Kenapa pak Maksum tetap mengajar meski honornya sedikit? Bapak kan bisa cari kerja lain?”tanya saya suatu ketika.
“Begini pak. Dalam hadits Nabi dikatakan didiklah anak-anakmu hari ini karena kelak dia akan jadi pemimpin di masyarakat. Hanya itu yang membuat saya kuat.“jawabnya tulus tanpa sedikitpun niat menyombongkan diri. Jawabannya yang terkesan spontan namun penuh makna membuat saya merinding. Ia terbiasa memanggil saya dengan sebutan Pak meski usianya lebih tua dari saya.

Pagi sebelum berangkat mengajar, pak Maksum memasang bubu di sungai dekat rumahnya. Selepas mengajar atau menjelang magrib, dia mengambil bubu dan menjual ikan yang terperangkap untuk menambah kebutuhan sehari-hari. Namun penghasilan utama pak Maksum bukan dari menangkap ikan. Ia menyewa kebun kelapa tetangganya seharga beberapa ratus ribu rupiah. Ia mengolah kelapa menjadi kopra, hasilnya sebagian untuk membayar sewa pada pemilik tanah dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Toh, kerja kerasnya tidak cukup untuk mencukupi kebutuhannya bersama istri dan dua anaknya. Rumah papannya yang reot dan beratap rumbia baru ia perbaiki dari hasil tabungannya selama mendapat bantuan honor dari lembaga tempat saya bekerja sebesar 500 ribu rupiah setiap bulannya.

“Pak Maksum tidak dapat rumah bantuan? Bukankah desa pak Maksum juga terkena tsunami?”
“Sebenarnya desa saya tidak terkena tsunami langsung. Memang banyak tetangga yang mendapat rumah bantuan setelah mengajukan permohonan, padahal sebenarnya rumahnta tidak rusak terkena tsunami. Tapi saya sama sekali tidak punya keinginan seperti itu. Itu bukan hak saya, pak“.

Lain waktu, lembaga saya mengadakan pelatihan untuk para guru dampingan. Kami menempatkan para guru yang tinggal di luar kota Meulaboh di sebuah penginapan, termasuk pak Maksum. Hari pertama pak Maksum menolak masuk penginapan dan meminta dicarikan tempat lain yang lebih sederhana. Ia merasa tidak nyaman berada di kamar yang menurutnya terlalu bagus. Padahal kami menyediakan penginapan biasa dengan tarif kurang dari 100 ribu permalam. Pada akhirnya pak Maksum memang menempati penginapan yang disediakan meski paginya ia mengaku terjaga semalaman karena tidak biasa tidur di atas kasur pegas.

Banyak hal yang saya dapat selama lebih kurang dua tahun masa pertemanan saya dengan pak Maksum. Namun ingatan saya tentang pak Maksum bukan hanya ingatan tentang seorang guru honor biasa, melainkan seorang guru sederhana dengan semangat dan kegigihan merawat sebuah cita-cita besar —dalam hal ini generasi masa depan yang lebih baik— di tengah segala keterbatasannya.

Pak Maksum adalah potret kecil dari ribuan guru lain di negeri ini yang mendedikasikan hidupnya bagi dunia pendidikan dengan hanya bermodalkan semangat dan ketulusan meski minim keahlian mengajar atau tanpa gaji yang memadai. Namun mereka adalah guru kehidupan yang sesungguhnya, yang memaknai status guru bukan hanya sebagai profesi di kelas, melainkan juga sifat dan keteladanan yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Inspirasi dan kearifan tidak mereka tunjukkan dengan khotbah yang berbuih, perintah yang memaksa, atau kesalehan yang dibuat-buat, melainkan dari kejujuran dan kesederhanaan dalam menjalani hidup serta keikhlasan dalam menjalankan tanggungjawabnya. Dari merekalah kita hendaknya belajar...



Read more...

Lehman Brothers dan Lekman Bersaudara



Lek Man adalah tetangga saya di kampung. Nama aslinya Paiman. Sebagaimana pemuda desa yang kesulitan mendapat pekerjaan, Lek Man mencoba mengadu nasib dengan merantau ke Jakarta. Entah usaha apa yang digelutinya, saya yang waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar tidak terlalu tahu. Yang saya ingat, beberapa waktu kemudian Lek Man pulang kampung.

Dengan hasil tabungan selama bekerja di Jakarta, Lek Man merintis usaha kecil-kecilan, yaitu berjualan siomay. Berbeda dengan siomay biasa, siomay Lek Man hanya berupa bulatan sebesar bakso yang dibuat dari tepung kanji yang diisi tahu, telor atau sedikit daging. Untuk memakannya, siomay dicelupin ke saos pedas dengan menggunakan tusuk yang terbuat dari bambu. Mula-mula Lek Man hanya berjualan keliling kampung dengan menggunakan sepeda angin. Ternyata, siomay Lek Man mendapat sambutan luar biasa dari warga kampung, terutama anak-anak. Berangkat pagi dan pulang sebelum matahari meninggi, dagangan Lek Man selalu habis. Untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat, beberapa saudara Lek Man mulai ikut membantu berjualan. Jika sebelumnya hanya omzet kampung, siomay Lek Man juga mulai merambah antar desa dan kecamatan sekitar.


Kesuksesan usaha Lek Man memberi inspirasi bagi orang lain. Banyak warga kampung yang mulai ikut berjualan siomay tusuk. Salah satu orang yang meniru usaha berjualan siomay tusuk bahkan menjadi lebih sukses dari Lek Man, seorang juragan yang mempekerjakan banyak orang dengan modal dan omzet yang lebih besar dari Lek Man. Para pekerjanya berjualan dengan menggunakan sepeda motor, menjangkau lebih banyak tempat ketimbang Lek Man dan saudara-saudaranya yang masih saja berkeliling menggunakan sepeda angin.

Namun, booming siomay di kampung kami hanya berlangsung selama beberapa bulan. Warga yang berjualan siomay satu demi satu berguguran dan tidak meneruskan usaha. Bahkan sang juragan siomay pada akhirnya bangkrut, mengurangi jumlah para pekerjanya dan pada akhirnya tidak berjualan sama sekali. Tinggal Lek Man yang setiap hari mengayuh sepedanya dengan wajah penuh senyum lugu dan ramah khas desa.

Kerja keras dan kesederhanaan

Kisah Lek Man di kampung saya dalam beberapa hal sama dengan kisah keluarga Lehman bersaudara. Pada tahun 1844, Henry Lehman hijrah dari Bavaria, Jerman menuju Amerika Serikat bersama dengan adiknya Emanuel Lehman dan Mayer Lehman. Mereka mendirikan sebuah toko kecil di Alabama yang pada waktu itu terkenal dengan komoditi kapasnya. Bermula dari toko sederhana dan bisnis kapas kecil-kecilan, perusahaan mereka pada akhirnya menjelma menjadi raksasa keuangan Amerika Serikat dan juga dunia yang kita kenal dengan nama Lehman Brothers.

Yang berbeda dari Lek Man dan keluarga Lehman adalah filosofi yang mendasari usaha mereka. Saya yakin bahwa usaha Lek Man bisa saja berkembang atau bahkan tidak hanya terfokus pada siomay tusuk karena pada dasarnya Lek Man memiliki kemampuan seorang wirausahawan -atau istilah yang sedang tren adalah enterpreuner- yaitu kerja keras dan kemampuan menangkap peluang usaha -dalam hal ini siomay tusuk yang pada saat itu masih asing di kampung saya. Namun bagi Lek Man, bekerja adalah untuk mencari nafkah sekaligus sebagai ibadah, bukan semata untuk mencari keuntungan tiada batas. Filosofi usaha Lek Man tidak lain bahwa hasil yang dia dapat dalam satu hari adalah cukup dan tidak harus berlebih tanpa . Barangkali itulah yang membuat usaha Lek Man masih tetap bertahan sampai saat ini, di saat para pesaingnya –para tetangganya sendiri- bertumbangan dan tidak melanjutkan usaha.

Tentu Henry Lehman dan saudaranya juga mengawali bisnis mereka dengan semangat kekeluargaan, kesederhanaan, hemat dan kerja keras khas kaum imigran. Namun semangat tersebut hilang ketika pada akhirnya Lehman Brothers dikuasai dan dijalankan oleh para monster-monster Wall Street, para pebisnis rakus yang mengandalkan spekulasi dalam mencari keuntungan sebesar-besarnya, mereka yang disebut oleh Prof. Michael Sabino, profesor bisnis dari St. John’s University telah “...mendapatkan akibat dari kerakusan sendiri, yang sangat berlebihan dalam mencari untung, tanpa mempertimbangkan resiko“. Keserakahan yang pada akhirnya menghancurkan apa yang telah dirintis dengan susah payah oleh Lehman bersaudara. Para pebisnis rakus,

Saya membayangkan, dari dalam kuburnya Lehman bersaudara meratap dan menyesal melihat perusahaannya menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab atas krisis keuangan dunia. Dan di kampung, Lek Man yang selalu tersenyum masih saja mengayuh sepedanya membawa bak penuh siomay yang mengepul, untuk kemudian berhenti dan dikerubuti anak-anak yang menyambutnya dengan riang...



Read more...

Maaf, aku tidak ikut mudik tahun ini…


Hajatan besar itu telah dimulai sejak hari-hari terakhir di bulan Ramadhan. Ribuan orang berdesak-desakan dengan wajah-wajah penuh ekspresi, kardus-kardus yang menumpuk dan tas yang menggembung penuh barang menjadi pemandangan di terminal, bandara dan pelabuhan di berbagai pelosok negeri. Di layar kaca, hampir setiap menit para pembaca berita menyiarkan “acara rutin“ yang menjadi ciri khas dari hajatan ini, mulai dari antrian untuk mendapatkan tiket, kemacetan di jalan raya, kecelakaan, maupun aksi para pelaku kriminal dengan berbagai modus.

Barangkali hanya pada saat seperti inilah bangsa ini benar-benar bisa bersatu dalam arti yang sesungguhnya. Para petugas perhubungan, reporter berita televisi, pemilik bengkel kendaraan, polisi, pedagang asongan, pengusaha jasa angkutan dan tentu saja pemudik itu sendiri berbaur dan berinteraksi dalam sebuah jalinan rumit yang membentuk sebuah ritual akbar massal bernama mudik.


Siapapun boleh mengikuti ritual ini tanpa kecuali. Tidak terlalu tepat jika ada yang mengatakan mudik hanya dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah sebagai salah satu ekses dari urbanisasi dan ketimpangan pembangunan yang terfokus di kota besar. Kenyatannya, para pembesar negeri, para wakil rakyat, profesional muda dan orang-orang kaya juga ikut menjadi “peserta” dalam ritual ini. Jika ada yang membedakan, barangkali hanya jenis dan kualitas moda transportasi yang mereka gunakan. Lebih dari itu, semua punya hak dan keinginan yang sama, yakni kembali ke kampung halaman dan berlebaran bersama keluarga

Khusus untuk tahun ini, pemudik seperti komoditas berharga. Mereka diburu dan diperlakukan seperti raja oleh partai politik atau orang-orang yang berniat untuk menjadi calon penguasa. Toh, atas nama ritual akbar ini, tidak ada yang boleh protes atau merasa dirugikan. Di tengah naiknya berbagai kebutuhan pokok dan biaya hidup yang semakin tinggi, mendapat tawaran mudik gratis dari partai atau calon presiden adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

Mudik bukan hanya sekedar tradisi pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai. Lebih dari itu, mudik adalah manifestasi dari kondisi kejiwaan manusia yang selalu rindu pada sebuah titik di mana ia memulai kehidupannya. Karena hidup adalah ibarat perjalanan, maka ada satu titik tertentu di mana manusia merasa lelah dan membutuhkan momen untuk mendapat energi dan memulai lagi perjalanannya, yang bisa ditemukan dengan perjumpaan kembali dengan asal muasal, baik secara fisik maupun rohani. Ibu, kerabat dan saudara, teman masa kecil, sudut-sudut kampung tempat kita biasa bermain, dan juga ziarah ke makam orang tua atau leluhur sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan kepada mereka yang telah membentuk kehidupan kita saat ini. Dan itulah yang dicari dari makna mudik yang sesungguhnya.

Kerinduan dan keterikatan terhadap asal muasal itulah yang barangkali menjelaskan kenapa para pemudik menempuh segala cara dan resiko untuk tetap bisa pulang ke kampung halaman. Bukan hanya biaya perjalanan yang berlipat atau kenyamanan sarana transportasi yang bagi sebagian besar pemudik masih menjadi mimpi, bahkan beberapa dari mereka kadang tidak pernah sampai ke kampung halaman karena harus dirawat di rumah sakit atau meregang nyawa di jalan. Meski demikian, ritual mudik tetap tidak bisa ditinggalkan. Meminjam istilah seorang psikolog, John Holt, mudik adalah ekspresi kerinduan seorang bayi yang selalu kembali ke pangkuan ibunya untuk mendapat energi setelah lelah bermain, begitu seterusnya. Lebih jauh lagi, mudik sesungguhnya adalah pengakuan dan kerinduan manusia terhadap asal muasalnya, yaitu Tuhan sang Pencipta.

Namun, aku memilih absen dari ritual akbar tersebut tahun ini. Bukan karena telah kehilangan identitas dan kesadaran akan asal muasalku. Jika harus memilih, sesungguhnya aku tetap berhasrat untuk pulang dan menyatu sejenak dengan titik sejarahku sendiri. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang membuatku harus tetap tinggal di tanah perantauanku. Dan di hari-hari menjelang lebaran seperti ini, aku tetap meniatkan diri untuk mudik secara rohani, di mana hanya batin dan anganku yang kembali untuk menjelajahi setiap sudut rumah tempat aku dibesarkan, membayangkan wajah ibu yang sudah mulai renta, istriku yang menunggu dengan sabar, anakku yang mulai belajar bicara, saudara dan kerabat yang selalu memberikan kehangatan, teman-teman masa kecil yang ikut mewarnai lembar kehidupanku, juga makam Bapak yang sudah beberapa tahun tidak aku kunjungi. Maaf, aku tidak ikut mudik tahun ini...




Read more...

Ketika gagal...

Cuiusvis hominis est errare.
(Marcus Tullius Cicero, 106-43 B.C)


Setiap orang bisa berbuat salah. Beberapa waktu belakangan ini saya menggenggam kuat-kuat ungkapan dari filsuf dan negarawan asal Romawi tersebut dan menjadikannya sebagai mantra penghibur. Kegagalan dan kesalahan yang telah saya lakukan membuat hari-hari terasa berat dan melemahkan energi produktif saya.


Dari kata-kata tersebut, saya menemukan ketenangan sekaligus pembenaran, bahwa siapapun dia, nabi yang saleh, pemimpin hebat atau ilmuwan yang jenius sekalipun pernah berbuat salah, entah kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri. Adakalanya jenis kesalahan dan dampak yang ditimbulkan juga menentukan seberapa kuat dan seberapa cepat seseorang bisa bangkit dari kesalahan tersebut. Namun, yang membedakan antara satu orang dengan yang lainnya adalah kemampuan untuk bangkit yang sekaligus juga menunjukkan seberapa tinggi kualitas seseorang dalam memaknai hidupnya.


Dengan segala kecerdasan, pencapaian kemajuan dan penaklukan yang gemilang atas alam sepanjang sejarah peradabannya, manusia sesungguhnya adalah sosok yang lemah, fragile, dan butuh sesuatu untuk menguatkan. Itulah yang membuat Max Webber mengatakan bahwa agama dibutuhkan untuk membuat seseorang merasa kuat di tengah dunia dan alam semesta yang seolah tanpa batas ini. Beberapa orang lainnya menggantungkan diri pada benda tertentu atau sesuatu yang gaib agar kehidupan sosial ekonominya berjalan dengan baik. Bermacam upaya yang dilakukan semakin meneguhkan bahwa manusia bukanlah apa-apa dan selalu punya potensi untuk gagal dan melakukan sebuah kesalahan.

Namun bahwa kesalahan adalah sesuatu yang manusiawi tentu tidak bisa dijadikan pembenaran dan alasan untuk tidak berkembang. Seorang guru perdamaian, Thich Nhat Hanh, memberikan sebuah pelajaran moral yang sangat berharga dengan cerita tentang bunga dan sampah. Jika hari ini kita mendapat bunga dari seseorang tetapi tidak merawatnya, maka besok pagi bunga tersebut akan menjadi sampah. Namun sebaliknya jika kita memahami cara mengelola sampah yang kita dapat pada hari ini, maka bunga yang indah akan tumbuh dari sampah tersebut.

Sewaktu masih duduk di bangku kuliah, seorang teman yang sedang mengalami persoalan bertanya kepada saya apa yang harus dilakukan ketika gagal atau berbuat salah. Saya tidak bisa menjawab karena saya sendiri juga masih sering kebingungan dan putus asa ketika mengalami hal yang sama. Saya hanya berkata, jika boleh memilih, lebih baik kita maju karena pernah berbuat salah daripada tidak pernah sama sekali. “Lebih baik maju karena kritik daripada hancur karena pujian”, begitu saya mengutip sebuah ungkapan seorang bijak yang tidak saya ingat namanya.

Dan kini, di tengah rasa bersalah yang menghimpit, kata-kata dari para orang bijak begitu menguatkan dan memberi rasa nyaman. Berada dalam dua sisi antara pembenaran dan keinginan untuk bangkit, bagi saya yang hanya orang biasa, kesalahan adalah kritik yang harus dijadikan bahan bakar untuk menjalani hidup dengan lebih baik lagi…



Read more...